Credible Exporters of Indonesia

NEWS & ARTICLES

Oct 20, 2016
Ekspor Kayu Olahan dan Turunannya ke Eropa Baru 10%

YOGYAKARTA - Ekspor kayu dan turunannya ke Uni Eropa (UE) selama ini masih kecil dibanding komposisi dari keseluruhan ekspor kayu dan turunannya ke seluruh dunia. Ekspor produk ini ke Eropa masih kalah dengan ekspor ke Jepang, yang notabene hanya satu negara di Asia.

Ketua Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Robianto Koestomo mengungkapkan, selama ini Apkindo merupakan salah satu pihak yang pertama merasakan dampak dari perambahan hutan atau ilegal loging. Dan biasanya, ilegal loging tersebut akan dipasarkan ke seluruh dunia, terutama Eropa melalui jalur tidak resmi alias ilegal, sehingga berdampak pada nilai ekspor dari tanah air. "Kompetitor utama kita ya para selundupan tersebut," tuturnya dalam The 5th Joint Implementation Commitee (JIC) Meeting di Hotel Tentrem Yogyakarta, Jumat (16/9/2016). Robianto menuturkan, selama ini ilegal loging justru banyak dilakukan oleh negara tetangga yang melakukan pencurian kayu di Indonesia. Mereka lantas memasarkannya ke berbagai negara dengan harga yang lebih murah ketimbang kayu yang dijual oleh eksportir dari Indonesia. Akibatnya, nilai ekspor kayu dan turunannya dari Tanah Air memang masih kecil kalah dengan negara tetangga.

Karena itu, dia berharap agar pemberlakuan Sertifikasi Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) ke negara-negara Eropa terkait dengan ekspor kayu dan turunannya pada 15 November 2016 ini akan berdampak positif bagi industri pengolahan kayu di tanah air. Sebab, pemberlakuan SVLK tersebut akan meminimalisir dari perdagangan kayu yang tak jelas asal-usulnya. Dengan pemberlakuan ini, maka ekspor Indonesia yang masuk ke Eropa tanpa pemeriksaan menyeluruh lagi karena sudah ada SVLK. Harapannya memang nanti bisa meningkatkan sales atau penjualan produk olahan kayu dan turunannya. Tak hanya ke Eropa, tetapi ke negara-negara lain. Sebab selama ini Eropa merupakan barometer dunia.

"Setelah Eropa, sekarang Australia kemudian Kanada juga mendukung tata cara di Eropa," ungkapnya. Sebelum 2000, ekspor kayu dan turunannya dari Indonesia mencapai USD40 miliar. Namun setelah tahun 2000, ketika marak pembalakan liar ekspor Indonesia turun lebih dari 50%. Dan Jepang masih menduduki ranking teratas negara yang menjadi tujuan ekspor produk kayu olahan dan turunannya. Namun perlahan, sejak SVLK mulai didengungkan dan akan diterapkan di Eropa, ekspor kayu olahan dan turunannya dari Indonesia ke Eropa terus meningkat. Dia mengklaim saat ini seluruh anggota Apkindo telah mengantongi SVLK, sehingga pemberlakuan SVLK nanti dapat mendongkrak nilai ekspor dari Apkindo dan organisasi lain yang bergerak di dalam industri kayu olahan dan turunannya, seperti kertas.

sumber:sindonews.com

Share this: